Senin, 05 Juli 2010

ASAL USUL MANUSIA

A. Pendahuluan

Ada dua persepsi tentang siapa nenek moyang manusia. Dari kubu sains, mereka akan mengatakan bahwa nenek moyangnya adalah Pithecantrophus erectus sedangkan dari kubu agama mereka menolak nenek moyangnya manusia purba karena mereka berasal dari Adam As. Perdebatan tentang masalah asal usul manusia memang terus berlanjut hingga sekarang.

Dewasa ini permasalahan tentang masalah nenek moyang mulai mengalami degradasi kepercayaan. Persepsi agama ( baca : Islam ) semakin bias. Hal ini disebabkan tidak adanya penguatan pendapat untuk membuktikan bahwa adam adalah nenek moyang manusia. Banyak orang meragukan , benarkah adam nenek moyang manusia ataukah Pithecantrophus erectus seperti yang diklaim oleh Charles Darwin ?

Sebelum kita memasuki ranah pemikiran Darwin tersebut, kita harus mengetahui dulu latar belakang pemikirannya. Charles Darwin yang hidup pada tahun 1804 – 1872 ternyata pemikirannya terinspirasi dari pendapatnya Ibnu Khaldun yang lahir empat abad sebelumnya di Maghrib, Afrika Utara. Cendikiawan besar muslim tersebut dalam kitabnya “Muqaddimah” mengemukakan bahwa dunia yang diistilahkan dengan “alam at takwin” ini diawali dengan alam benda, kemudian alam tumbuh tumbuhan, lalu disusul alam binatang. Manusia menurut Khaldun menduduki tempat tertinggi di alam binatang, suatu status yang dicapainya setelah ia melalui tahap kera, karena memiliki kemampuan untuk berpikir dan merenung.

Minggu, 05 Juli 2009

indahnya pulau kelahiran q...

Minggu, 24 Mei 2009

Integrasi Interkoneksi Sains n Al Qur'an

Kaum Saba’ dalam Tragedi Situ Gintung

Musibah demi musibah kerap melanda negeri ini. Sepertinya bangsa kita khususnya dan dunia pada umumnya sudah bosan dengan segala aktifitas-aktifitas yang dilakukan manusia bila dipandang dari sisi efek yang ditimbulkan. Berbagai efek negative mendominasi dari segala hal yang berbau manusia, entah itu disengaja ataukah sudah fitrahnya manusia. Dalam hal ini sebenarnya telah ditakutkan oleh para malaikat, terkait dengan penciptaan manusia dan kekhalifahannya di muka bumi, seperti yang digambarkan dalam ayat Al-Quran.

Ya Tuhanku!! Mengapa Engkau ciptakan manusia, yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi, kemudian Allah menjawab, “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Di Negara kita yang semakin hari terasa semakin panas,

Rabu, 11 Maret 2009

kisah berharga

Faruk dan Rayap

Hari Minggu yang cerah. Faruk bepergian ke hutan untuk berpiknik dengan guru dan teman-teman sekelasnya. Setibanya di sana, mereka mulai bermain petak umpet.

Rabu, 11 Februari 2009

Teknologi Terapan

Kategori Kimia Lingkungan
Tenaga surya membunuh bakteri dalam air
Oleh El Jayyid

Ilmuwan telah mengembangkan teknik-teknik dekontaminasi air dengan tenaga surya dalam upaya untuk mengurangi penyebaran penyakit-penyakit asal air di negara-negara berkembang.

Disinfeksi air dengan tenaga surya merupakan sebuah cara yang sederhana untuk membunuh bakteri dalam air. Metode ini digunakan oleh rumahtangga-rumahtangga di negara-negara berkembang dimana ketersediaan air minum yang aman cukup langka. Mereka mengisi botol-botol plastik dengan air dan menjemurnya di bawah sinar matahari, dimana radiasi UV dan suhu air yang meningkat membunuh bakteri dalam enam jam. Tetapi metode ini memerlukan sinar matahari yang kuat dan volume air yang bisa disterilkan terbatas.

Sinar matahari digunakan untuk disinfeksi air dalam botol-botol plastik tetapi jumlah air yang bisa disterilkan terbatas.

Kevin McGuigan dari The Royal College of Surgeons di Irlandia, Dublin, dan rekan-rekannya menyelidiki disinfeksi air yang terkontaminasi Escherichia coli dengan menggunakan tenaga surya dalam reaktor-reaktor aliran volume besar. Sebuah pompa mensirkulasi air antara sebuah tangki penampung dan sebuah tabung kaca yang dikelilingi oleh penangkap sinar matahari yang memfokuskan energi matahari ke dalam tabung. Mereka menemukan bahwa penonaktifan E. coli tergantung pada total dosis sinar matahari bukan pada intensitas cahayanya. Mereka juga menunjukkan bahwa reaktor-reaktor ini bisa menjadi tidak efektif karena bakteri mendapatkan dosis radiasi yang tidak kontinyu ketika bakteri-bakteri tersebut mengalir antara tangki penampung yang tidak terkena cahaya dengan tabung yang terkena cahaya. Jika bakteri tidak dinonaktifkan secara sempurna oleh sinar matahari, maka keadaan tidak terkena cahaya akan memberi waktu bagi bakteri-bakteri ini untuk pulih dari kerusakan akibat radiasi, sehingga menjadikan mereka lebih resisten ketika disinari ulang.

"Bagi saya, signifikansi utama dari penelitian ini adalah bahwa metode-metode ini bisa menjadi efektif, tetapi penghitungan ulang aliran dalam reaktor disinfeksi surya harus dirancang dengan cermat untuk menghindari kemungkinan terbentuknya sub-populasi patogen resisten yang tetap bertahan akibat keterpaparan sinar matahari yang tidak lengkap," kata McGuigan.

"Penelitian ini merupakan sebuah kontribusi penting yang menunjukkan kelebihan dan kekurangan potensial dari disinfeksi dengan sinar matahari, tergantung pada tipe reaktor cahaya surya dan cara operasi," tanggap Cesar Pulgarin, seorang ahli di bidang proses dekontaminasi biologis di Swiss Federal Institute of Technology di Lausanne, Switzerland. "Ini juga merupakan upaya pertama untuk menilai dosis UV