Minggu, 07 November 2010

Analisis Kesenjangan Penerapan Konsep Integrasi-Interkoneksi Terhadap Kepuasan Mahasiswa Angkatan 2008/2009 Dalam Proses Belajar Mengajar
(Studi Kasus di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Oleh : Khotibul Umam. Widyani NL, Erwin Arsadani

LATAR BELAKANG MASALAH
Sejarah ilmu pengetahuan selama ini selalu diukur dari kemajuan teknik dan ketinggian metode-metode kuantitatif di dalam studi ilmu alam. Pandangan seperti ini menganggap konsepsi ilmu pengetahuan sekarang sebagai satu-satunya yang sah dan benar, ilmu pengetahuan lainnya seakan-akan harus dilihat dari kaca mata ilmu pengetahuan modern dan memberikan evaluasi terutama yang berhubungan dengan perkembangan dalam perjalanan manusia. Manusia dipandang sesuai dengan keahlian ilmu yang ia miliki. Tanpa sadar manusia dikotak-kotak dalam dimensi ilmunya masing-masing.
Manusia bukanlah makhluk yang satu dimensi, kita menginginkan manusia dipandang “utuh” yaitu manusia yang selain memiliki ilmu pengetahuan dengan akalnya juga memiliki budaya, iman kepada Tuhan dan agamanya, dan menghargai seni serta estetiknya. Manusia yang memiliki persepsi historis tentang perjalanan bangsanya dalam sejarah peradaban manusia.


Para saintis (murni pendidikan ilmiah) tidaklah mencetak manusia seutuhnya. Saintis melahirkan setengah manusia. Pendidikan semacam ini hanya menghasilkan bahan baku untuk manusia, bukan manusia “jadi”. Pendidikan tersebut hanya mencetak manusia unilateral, sehat dan kuat, namun bukan manusia multilateral dan bijak. Semua orang kini menyadari bahwa zaman murni ilmu pengetahuan sudah berakhir.( Murtadha Muthahari, 2008:15)
Munculnya gagasan integrasi-interkoneksi adalah sebagai jawaban dan merupakan tanggung jawab UIN Sunan Kalijaga sebagai universitas yang mengusung nama Islam. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijga Yogyakarta pada tahun 2004 telah membuka fakultas baru yaitu Fakultas Sains dan Teknologi. Fakultas ini mempunyai visi unggul dan terkemuka dalam pemaduan dan pengembangan studi keIslaman dan sains teknologi bagi perdaban. Untuk mewujudkan visi tersebut tentunya perlu adanya langkah-langkah pendukung, salah satunya yaitu mengembangkan kualitas kompetensi yang tinggi.
Kualitas kompetensi yang tinggi perlu mempertimbangan keselarasan dalam pendekatan metode pembelajaran. Untuk mencapainya perlu menekankan proses pembelajaran yang berpusat kepada mahasiswa (student centered), dengan belajar aktif (active learning), dan belajar kolaboratif ( collaborative lerning). Setiap mata kuliah diupayakan menyentuh aspek kognitif, afektif, normatif, dan psikomotorik dengan mengacu pada paradigma integrasi-interkoneksi yang memadukan hadlarah al-nash, hadlarah al-‘ilm, dan hadloroh al-falsafah.(Pokja akademik UIN Sunan Kalijaga, 2006:42)
Konsep integrasi-interkoneksi tersebut dapat di aplikasikan dalam proses belajar-mengajar dengan beberapa model kajian yaitu informatif, konfirmatif, korektif, similarisasi, paralelisasi, komplementasi, komparasi, induktifikasi, dan verikasi. Tentu saja dibalik paradigma integrasi-interkoneksi terdapat harapan umat yang besar. Tetapi apakah staf pengajar/dosen sudah memberikan kualitas untuk menerapkan model kajian tersebut dalam pengajaran secara baik? Dari hal inilah kami ingin mengetahui sejauh mana kualitas penerapan integrasi-interkoneksi dosen-dosen fakultas sains teknolongi UIN Sunan Kalijaga dalam proses belajar mengajar menurut pandangan mahasiswa angkatan 2008/2009.


RUMUSAN MASALAH
Apakah terdapat kesenjangan antara kualitas pengajaran konsep integrasi-interkoneksi yang diharapakan mahasiswa dengan hasil yang dipersepsikan oleh mahasiswa sains dan teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan 2008/2009?

TUJUAN DAN KEGUNAAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesenjangan antara kualitas aplikasi konsep integrasi-interkoneksi yang diharapkan oleh mahasiswa dengan hasil yang dipersepsikan oleh mahasiswa sains dan teknologi angkatan 2008/2009.

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
Dengan mengetahui kesenjangan antara kualitas aplikasi konsep integrasi dan interkoneksi yang diharapkan mahasiswa dengan hasil yang dipresepsikan oleh mahasiswa, maka akan diketahui berhasil tidaknya dosen Fakultas Sains dan Teknologi dalam mentransformasikan pemahaman integrasi-interkoneksi terhadap mahasiswa.
Sebagai bahan evaluasi bagi pelaksanaan proses belajar mengajar dosen Fakultas Sains dan Teknologi dalam mengintegrasikan dan interkoneksikan mata kuliahnya.
Sebagai masukkan dalam perumusan kebijakan dan strategi pembelajaran mata kuliah di Fakultas Sains dan Teknologi.

TINJAUAN PUSTAKA
Penelitian oleh Fajar Sulthoni Aziz
Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Fajar Sulthoni Aziz dengan judul “Implementasi Paradigma Integrasi-interkoneksi dalam Pembelajaran Fisika”, meskipun penelitian tersebut membahas implementasi atau penerapan integrasi-interkoneksi akan tetapi penelitian tersebut hanya terfokus pada pengaruh atau dampak bagi pembelajaran fisika, penelitian tersebut tidak memasuki ranah kualitas yang ditimbulkannya. Titik berat penelitian ini berpijak pada landasan pemikiran M. Amin Abdullah dan latar belakangnya dihubungkan dengan pola pembelajaran fisika di Fakultas Sains dan Teknologi.
Penelitian oleh Rosidah
Hasil penelitian Rosidah dengan judul “Pengaruh Integrasi-Sains dan Islam dengan Metode Disteri terhadap Hasil Belajar Biologi Sub Materi Pokok Archeobacteria pada Siswa Kelas x Madrasah Mualimat Muhamadiyah Yogyakarta Tahun Ajaran 2007/2008”, hanya membahas seputar pengaruh yang ditimbulkan dari konsep integrasi sains dan Islam yang menggunakan pola diskusi dengan hasil belajar. Tidak ada pembahasan mengenai perbedaan kualitas dan perbedaan pemahaman pada masing-masig individu terhadap konsep integrasi sains dan Islam.
Penelitian oleh Sunarwan Arif Wicaksana
Judul penelitian yang diambil Sunarwan (2007) adalah “Analisis Kesenjangan Kemiskinan antar Propinsi di Indonesia Periode Tahun 2000-2004”. Dalam tulisannya peneliti berusaha mengukur sejauh mana kesenjangan kemiskinan spasial di Indonesia, antar pulau pada periode 2000-2004.
Penelitian ini dilatarbelakangi adanya pembangunan yang tidak merata di setiap propinsi di Indonesia. Beberapa daerah mengalami pertumbuhan yang cepat dan sebagian daerah lain mengalami pertumbuhan yang lambat.
Analisis indeks entropi Theildan model diskrikminan di gunakan untuk menguji hipotesis tersebut. Indeks Theil digunkan untuk mengukur kesenjangan tingkat kemiskinan antar daerah dengan menggunkan pangsa jumlah penduduk sebagai pembobot (weights).

Penelitian oleh Thomas Stefanus Kaihatu
Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Thomas dengan judul “Analisa Kesenjangan Kualitas Pelayanan dan Kepuasan Konsumen Pengunjung Plaza Tunjungan Surabaya”. Peneliti berusaha mengukur kesenjangan antara harapan dan presepsi pengunjung terhadap kualitas pelayanan plaza tunjungan Surabaya.
Metode yang di gunakan adalah Gap Analysis atau analisis kesenjangan yaitu dengan mengukur kepuasan konsumen, kualitas layanan, kehandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bukti fisik. Prosedur pengambilan sampel berdasrkan teknik sampling aksidental (accidental sampling). Pengumpulan data menggunakan kuisioner.

Pada penelitian ini, peneliti mengangkat judul Analisis Kesenjangan Penerapan Konsep Integrasi-Interkoneksi Terhadap Kepuasan Mahasiswa Angkatan 2008/2009 Dalam Proses Belajar Mengajar (Studi Kasus di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).Dengan mengacu pada metode analisis kesenjangan (gap) antara presepsi dengan harapan mahasiswa terhadap metode pembelajaran konsep integrasi-interkoneksi sains dan Islam.

LANDASAN TEORI
Konsep Integrasi-Interkoneksi pada UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Pendekatan integratif disini adalah terpadunya kebenaran wahyu (burhan ilahi) dalam bentuk pembidangan matakuliah yang terkait dengan nash (hadlarah al-nash), dengan bukti-bukti yang ditemukan di alam semesta ini (burhan kauni) dalam bentuk pembidangan matakuliah empiris-kemasyarakatan dan kealaman (hadlarah al-‘ilm), dan pembidangan mata kuliah yang terkait falsafah dan etika (hadlarah al-falsafah). Dikatakan struktur keilmuan integratif disini bukanlah berarti bahwa antar berbagi ilmu mengalami peleburan menjadi satu bentuk ilmu yang identik, melainkan terpadunya karakter, corak, dan hakikat antar ilmu tersebut dalam semua kesatuan dimensinya.
Adapun pendekatan interkonektif adalah terkaitnya satu pengetahuan dengan pengetahuan yang lain melalui satu hubungan yang saling menghargai dan saling mempertimbangkan. Bidang ilmu yang berkarakteristik integratif sudah tentu memiliki interkoneksi antarbagian keilmuannya. Sebaliknya, karena tidak semua ilmu dapat diintegrasikan, maka paling tidak masing-masing ilmu memiliki kepekaan akan perlunya interkoneksi untuk menutup kekurangan yang melekat dalam dirinya sendiri jika berdiri sendiri.(Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2006; 26)

Model Kajian Konsep Integrasi-Interkoneksi
Integrasi-interkoneksi keilmuan dapat berwujud dalam beberapa model, antara lain:
Informatif, berarti suatu disiplin ilmu perlu diperkaya dengan informasi yang dimiliki oleh disiplin ilmu lain sehingga wawasan civitas akademika semakin luas. Misalnya ilmu agama yang bersifat normatif perlu diperkaya dengan teori ilmu sosial yang bersifat historis, demikian pula sebaliknya.
Konfirmatif (Klarifikatif), mengandung arti bahwa suatu disiplin ilmu tertentu untuk dapat membangun teori yang kokoh perlu memperoleh penegasan dari disiplin ilmu yang lain. Misalnya, teori binary opposition dalam antropologi akan semakin jelas jika mendapat konfirmasi atau klarifikasi dari sejarah sosial dan politik, serta dari ilmu agama tentang kaya-miskin, mukmin-kafir, surga-neraka, dan lainnya.
Korektif, berarti suatu teori ilmu tertentu perlu dikonfrontir dengan ilmu agama atau sebaliknya, sehingga yang satu dapat mengoreksi yang lain. Dengan demikian perkmbangan disiplin ilmu akan semakin dinamis.

Selain model tersebut, bisa juga menggunakan model yang lebih rinci yakni similaritas, paralelisasi, komplementasi, komparasi, induktifikasi, dan verifikasi.
Similarisasi, yaitu menyamakan begitu saja konsep-konsep sains dengan konsep-konsep yang berasal dari agama, meskipun belum tentu sama. Misalnya menganggap bahwa ruh sama dengan jiwa. Pernyataan ini lebih cepat disebut similarisasi semu, karena dapat mengakibatkan biasnya sains dan direduksinya agama ke taraf sains.
Paralelisasi, yaitu menganggap paralel konsep yang berasal dari al-Qur’an dengan konsep yang berasal dari sains karena kemiripan konotasinya tanpa menyamakan keduanya. Misalnya peristiwa Isra’ Mi’raj parallel dengan perjalanan ke ruang angkasa dengan menggunakan rumus fisika S=v.t (Jarak=kecepatan x waktu). Paralelisai sering dipergunakan sebagai penjelasan ilmiah atas kebenaran ayat-ayat al-Qur’an dalam rangka menyebarkn syi’ar Islam.
Komplementasi, yaitu antara sains dan agama saling mengisi dan memperkuat satu sama lain, tetapi tetap mempertahankan eksistensi masing-masing. Misalnya manfaat puasa Ramadhan untuk kesehatan dijelaskan dengan prinsip-prinsip dietary dari ilmu kedokteran. Bentuk ini tampak saling mengabsahkan antara sains dan agama.
Komparasi, yaitu membandingkan konsep sains dengan konsep agama mengenai gejala-gejala yang sama.
Induktifikasi, yaitu asumi-asumsi dasar dari teori–teori ilmiah yang didukung oleh temuan-temuan empirik dilanjutakan pemikirannya secara teoretis abstrak ke arah pemikiran metafisik, kemudian dihubungkan dengan prinsip-prinsip agama dan al-Qur’an mengenai hal tersebut.
Verifikasi, mengungkapkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang menunjang dan membuktikan kebenaran-kebenaran (ayat-ayat) al-Qur’an.(Pokja akademik UIN Sunan Kalijaga, 2006:33-34)

Analisis Kesenjangan
Dalam penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat, secara teoritis A. Parasuraman, Leonard L. berry, dan Valerie A. Zeithaml mengemukakan bahwa ada 5 (lima) kesenjangan yang membuat suatu organisasi pelayanan tidak mampu memberikan pelayanan yang berkualitas kepada para penggunanya. Agar kualitas pelayanan yang diberikan dapat berkualitas, maka pihak penyedia pelayanan harus berupaya keras untuk menghilangkan kesenjangan yang ada, minimal berusaha agar kesenjangan yang ada tidak terlampau tinggi. Kesenjangan tersebut adalah:
Kesenjangan ke-1, yaitu antara harapan pengguna dan presepsi manajemen dalam menterjemahkan harapan pengguna.
Kesenjangan ke-2, yaitu antara presepsi menjemen organisasi pelayanan atas harapan pengguna dan spesifikasi pelayanan yang berkualitas, yang diakibatkan kesalahan dalam menterjemahkan presepsi manajemen atas harapan pelayanan ke dalam bentuk tolok ukur pelayanan berkualitas.
Kesenjangan ke-3, yaitu antra spesifikasi pelayanan berkualitas dan pemberian pelayanan kepada pengguna, yang diakibatkan oleh ketidakmampuan sumber daya manusia dalam memenuhi standar kualitas pelayanan yang telah ditetapkan.
Kesenjangan ke-4, yaitu antara pemberian layanan kepada pengguna dengan komunikasi internal yang terjadi karena organisasi pelayanan tidak mampu memenuhi janji-janji yang dikomunikasikan secara eksternal melalui berbagai bentuk promosi.
Kesenjangan ke-5, yaitu antara harapan pengguna dan kenyatan pelayanan yang diterima.

Peneliti melakuakan penelitian pada kesenjangan ke-5 (lima) yaitu kualitas aplikasi konsep integrasi-interkoneksi yang diharapkan oleh mahasiswa dengan hasil yang dipersepsikan oleh mahasiswa sains dan teknologi angkatan 2008/2009.
HIPOTESA
Penelitian ini dilakukan dengan didasarkan atas beberapa anggapan dasar sebagai berikut:
Dosen dalam mengaplikasikan integrasi dan interkoneksi dalam ilmunya kepada mahasiswa terdapat kesenjangan antara harapan dan presepsi yang dirasakan mahasiswa.
Dosen dalam mengaplikasikan integrasi dan interkoneksi dalam ilmunya kepada mahasiswa sudah tidak terdapat kesenjangan antara harapan dan presepsi yang dirasakan mahasiswa.
METODE PENELITIAN
Pendekatan dan Landasan Teori
Pendekatan Penelitian
Pengertian Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, yaitu pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya.(Nawawi, 1998:63)
Dilihat dari pendekatan analisisnya, penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif. Penelitian ini merupakan penelitian sampel, yaitu menetapkan sebagian dari populasi menjadi sampel penelitian.
Sumber data Penelitian
Peneliti menggunakan kuesioner dalam pengumpulan data, dengan demikian sumber data dalam penelitian ini dinamakan dengan responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti. Dalam hal ini, responden adalah para mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi angkatan 2008/2009.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian yang didasarkan pada data yang diperoleh dari Fakultas Sains dan Teknologi yaitu jumlah mahasiswa angkatan 2008/2009. Mengingat jumlah mahasiswa angkatan 2008/2009 sangat banyak dan tidak mungkin untuk dilakukan penelitian populasi, maka peneliti menentukan sampel sebagai subyek penelitian. Logikanya adalah sampel diteliti, data di analisis, disimpulkan, dan kesimpulannya berlaku untuk anggota sampel sekaligus populasinya.
Penentuan dan teknik pengambilan sampel
Dari jumlah populasi, diambil sampel penelitian dengan menggunakan pendapat Soetrisno Hadi yang merumuskan:
n = N
1 + N (d2)
n = Besar sampel.
N = Besar populasi.
1 = Nilai konstan.
d = Tingkat kepercayaan atau ketepatan yang diinginkan
Pengumpulan sampel dilakukan dengan teknik random (acak), yaitu mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi. Pertimbangan dalam menentukan teknik ini adalah:
1) Populasi dianggap bersifat homogen yaitu memiliki keseragaman ciri-ciri antara lain memiliki harapan yang hampir sama terhadap aplikasi penerapan integrasi-interkoneksi dalam pengajaran oleh dosen Fakultas Sains dan Teknologi.
2) Responden tidak selalu berada di lokasi.
Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data
1. Instrumen
Untuk mendapatkan data mengenai aplikasi integrasi-interkoneksi, maka di gunakan instrument atau alat pengumpul data berupa kuesioner yang diisi oleh mahasiswa saintek angkatan 2008/2009.
Dalam pengukuran penelitian ini, butir-butir pernyataan pada kuesioner di kuantitaskan menggunakan skala likert dengan member bobot nilai secara gradasi dari 5-1 atas jawabannya. Jumlah butir-butir pernyataan sebanyak 20 mencakup lima dimensi Persentase aplikasi yang dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitukategori tingkat kepentingan (harapan) dan kategori persepsi (pengalaman mahasiswa angkatan 2008/2009). Responden diminta mengisi kuisioner dengan memilih salah satu jawaban yang tersedia dalam lima kategori, yaitu:
Untuk tingkat kepentingan (harapan) diberi bobot sebagai berat:
5= Sangat Penting (SP)
4= Penting (P)
3= Sedang (S)
2= Tidak Penting (TP)
1= Sangat Penting (STP)
Untuk tingkat persepsi (penglaman mahasiswa) diberi bobot sebagai berikut:
5=Sangat Baik (SB)
4=Baik (B)
3=Sedang (S)
2=Tidak Baik (TB)
1=Sangat Tidak Baik (STB)

2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket/kuesioner. Angket berisi daftar pertanyaan atau pernyataan secara tertulis yang ditunjukan kepada responden ntuk di jawab secara tertulis.
Angket/kesioner dalam penelitian ini merupakan angket tertutup yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih jawaban tersebut. Angket ini bersifat langsung, artinya responden menjawab tentang dirinya sendiri bukan tentang orang lain. Sedangkan dilihat dari bentuknya, angket ini merupkan angket yang jawabannya berupa pilihan ganda yang menggunkan format likert.
Teknik-Teknik Analisis Data.
Penelitian Penelitian ini termasuk termasuk penelitian deskriptif-kuantitatif yaitu penelitian yang berfungsi menyajikan gambaran (deskripsi) tentang fenomena secara valid dan obyektif . Sesuai dengan pengertian ini maka penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif yaitu hanya menggambarkan apa adanya tentang sesuatu variabel, gejala atau keadaan (Arikunto,2005:234)
Teknik analisa data yang digunakan, pertama analisis deskriptif kuantitatif, yaitu statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan untuk menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau tergeneralisasi, penyajian data yang diperoleh dalam bentuk tabel dan grafik yang disertai dengan penjelasan tentang makna dari data yang terkumpul (Sugiyono,2004:18).
Kedua, menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu menilai sejauh mana variable yang diteliti sesuai dengan tolok ukur yang telah ditentukan. Dalam hal ini peneliti mengukur kondisi variable yang diukur, dibandingkan dengan kondisi yang diharapkan dan ukurannya adalah persentase (Arikunto,2005:268-269).
Dalam pengukuran ini, kualitas pelayanan dapat diketahui dengan membandingkan antara tingkat persepsi mahasiswa dengan tingkat harapan mahasiswa, yang masing-masing akan diwakilkan dengan huruf x dan y.
Dengan menggunakan skala Likert pada masing-masing variable akan dihasilkan suatu perhitungan mengenai skor rata-rata tingkat kepentingan dengan rata-rata tingakt aplikasi, serta tingkat kesesuaian antara tingkat kepentingan dan tingkat aplikasi. Adapun rumus-rumus yang digunakan adalah

TKi = tingkat kesesuaian
Xi = skor penilaian aplikasi yang dipersepsikan mahasiswa
Yi = skor penilaian kepentingan/harapan mahasiswa terhadap layanan
Berdasarkan rumus diatas maka terdapat kemungkinan yang terjadi yaitu:
TKi ≥ 100% sangat baik
TKi ≥ 80% dan < 100% baik
TKi ≥ 60% dan < 80% cukup baik
TKi ≥ 40% dan < 60% tidak baik
TKi < 40% sangat tidak baik (Supranto,2003:403)

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatn Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
Hadi, soetrisno.1975. Metodologi Research Jilid 1. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.
Murtadha Muthahari. 2008. Manusia dan Alam Semesta.Jakarta:Lentera
Nawawi, Hadari. 1998. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada Press
Purwadi, Agus. 2002. Teologi Filsafat Sains, pergumulan dalam pearadaban mencari paradigmaa Islam untuk ilmu dan pendidikan. Malang: Pusat study Islam dan Filsafat univ. Muhamadiyyah Malang.
Supranto, J. 2003. Metode Riset: Aplikasinya dalam Pemasaran, ed ke 7. Jakarta: Rineka Cipta.
Sugiyono. 2004. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta
Tim Penyusun. 2006. Kerangka Dasar Keilmuan dan Pengembangan Kurikulum UIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta:Pokja Akademik UIN Sunan Kaliaga Yogyakarta

Tidak ada komentar: