Selasa, 07 Juni 2011

Refleksi 5 Juni : Akankah Tangisan Bumi Kita Abaikan?

Refleksi 5 Juni : Akankah Tangisan Bumi Kita Abaikan?
Moment 5 Juni pada tahun 2011 ini untuk kesekian kalinya kita peringati. Namun untuk kesekian kali pula kita hanya lewatkan saja tanpa pernah kesadaran kita pulih untuk menyelami makna esensial yang ada dalam moment ini. Tragis ! ironis! Begitulah keadaan global masyarakat saat ini. Tak terkecuali dari semua elemen yang ada, entah itu masyarakat umum, pemerintah, mahasiswa, praktisi, dosen, stakeholder dan semuanya, mereka telah menjadikan moment 5 juni sebagai ritual menyerukan perbaikan tapi tidak ada tindakan nyata yang berkelanjutan. Saat moment tersebut berlalu, lenyap pulalah perhatian semua lapisan pada keadaan lingkungan hidup yang saat ini sangat mengenaskan.
Sebenarnya apa sih makna penting yang ingin digaungkan saat dulunya tanggal 5 juni ini dipilih sebagai hari lingkungan hidup?Salah satu visi dan misinya adalah Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) sebagai momentum untuk merangsang kesadaran publik seluruh dunia akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Banyak sekali tujuan lainya, untuk tahun ini targetnya memang sederhana karena saat ini terjadi ketergerusan makna akan arti penting lingkungan hidup itu sendiri, sehingga tujuan diatas rasanya tepat untuk diangkat. Tahun ini, Hari Lingkungan Hidup Sedunia mengangkat tema “Forests: Nature at your Service” dengan peringatannya yang dipusatkan di New Delhi India. Pemilihan tema ini disesuaikan dengan tahun 2011 yang dideklarasikan PBB sebagai Tahun Hutan Internasional (International Year of Forest). Tahun Hutan Internasional sendiri mengangkat tema “Forests for People“. Tema Hari Lingkungan Hidup 2011ini menekankan akan pentingnya hutan yang memiliki fungsi untuk memberikan layanan bagi kehidupan yang memiliki nilai keberlanjutan. Juga menegaskan keterkaitan antara kualitas kehidupan manusia dan kelestarian ekosistem hutan.





Logo hari lingkungan hidup Indonesia 2011
Di Indonesia, tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) 2011 disesuaikan dengan konteks Indonesia yakni “Hutan Penyangga Kehidupan”. Dari tema Hari Lingkungan Hidup yang diangkat oleh pemerintah Indonesia ini tersirat makna akan pentingnya hutan sebagai penjaga keseimbangan antara kepentingan manusia dan kepentingan semua makhluk hidup lainnya di dunia. Fungsi hutan tersebut hanya dapat tercapai bila hutan tetap terjaga kelestariannya. Sayangnya luas hutan Indonesia yang secara de yure mencapai 133.300.543,98 ha masih terus mengalami deforestasi (kerusakan hutan) yang lebih cepat dibandingkan dengan laju pemulihannya. Laju kerusakan hutan mencapai 1,17 juta hektar per tahun di Indonesia, sedangkan kemampuan pemulihan lahan yang telah rusak hanya sekitar 0,5 juta hektar per tahun.
Kondisi ini berakibat pada terjadinya kerusakan lingkungan yang mengakibatkan bencana alam di berbagai wilayah seperti banjir dan tanah lonsor, kekeringan, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga sumbangan pada terjadinya perubahan iklim. Padahal seharusnya hutan bukanlah sebagai ancaman kehidupan yang mendatangkan berbagai bencana namun justru mampu berperan sebagai penyangga kehidupan bagi semua, baik manusia maupun semua makhluk. Tiada yang lebih berharga daripada kehidupan yang harmonis antara manusia dan lingkungan hidupnya dimana termasuk di dalamnya adalah ekosistem tempat hidup flora dan fauna. Hal inilah yang coba diingatkan pada kita semua melalui Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) 2011. Mengutip sambutan Menteri Negera Lingkungan Hidup pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2011, “mari kita jadikan momentum Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2011 untuk memposisikan hutan sebagai modal utama pembangunan nasional menuju masyarakat sejahtera dan berkelanjutan. turut mengajak semua pihak untuk berpartisipasi menjaga sumber daya alam Indonesia terutama hutan agar dapat bermanfaat secara berkelanjutan.
Selain itu, realitas di Indonesia, kerusakan lingkungan tidak hanya dalam masalah hutan saja, namun dari emisi yang dikeluarkan pun telah menyumbangkan polusi yang luar biasa. Degradasi lingkungan yang begitu cepatnya menjadikan negara kita tercatat sebagai negara ketiga setelah Amerika dan China sebagai penyumbang gas penyebab terjadinya efek rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut. Menurut Prof. Dr. Emil Salim, Indonesia dicap sebagai negara penyumbang besar terjadinya efek rumah kaca dari kebakaran hutannya. Emisi yang dilepaskan akibat kebakaran huta mencapai 2.563 MtCO2e, sementara dari energi dilepaskan emisi 275 MtCO2e, pertanian melepaskan 141 MtCO2e dan limbah yang ada di negara kita menyumbangkan 35 MtCO2e, total sumbangan yang diberikan Indonesia bagi terjadinya pemanasan global adalah 3.014 MtCO2e. Angka yang sangat fantastis!
Menurut UU No. 4 Tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup menegaskan bahwa “Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya”. Dari apa yang telah dikemukakan tersebut ada prinsip yang hakiki, bahwa proses pertumbuhan dari makhluk hidup termasuk manusia, sudah merupakan hukum alam bahwa proses hidup dimana pertumbuhan serta perkembangan setiap makhluk tidak akan mampu berkembang secara sendiri. Karena baik secara sengaja maupun tidak sengaja mereka pasti dipengaruhi dan mempengaruhi dalam menjalankan proses pertumbuhannya. Dalam hubungan timbal balik inilah menimbulkan masalah-masalah lingkungan.
Oleh sebab itu budaya budaya liberal yang saat ini menjamur dan telah berkontribusi besar dalam terjadinya kerusakan lingkungan harus sesegera mungkin dihentikan. Proses menghentikan budaya yang sudah terlanjur akut tersebut memang tidak bisa instan, namun harus dilakukan step by step dan perlu pendekatan sesuai dengan budaya yang ada. Salah satu cara efektif untuk menggugah kesadaran masyarakat kita akan pentingnya lingkungan hidup adalah dengan mengadakan keiatan kegiatan yang sifatnya mengarahkan ke permasalahan lingkungan hidup yang sebenarnya, sehingga masyarakat akan tahu seperti apa kondisi riilnya. Selain itu kegiatan tersebut juga harus mampu melibatkan seluruh komponen masyarakat dan pemerintah.
Berangkat dari hal inilah kemudian kami merasa tergugah sebagai sebuah Event Organizer “Care to Environment (CartoEnv)” untuk mengadakan kegiatan yang mampu membuka mata seluruh elemen negeri ini bahwa saatnya kita menghentikan seluruh aktifitas yang destruktif dan mulai menata lingkungan kita sebaik mungkin. Untuk itu kami mengajak seluruh civitas akademika khususnya yang mengkaji masalah lingkungan yaitu Biologi untuk memberikan kontribusi nyata tidak sekedar angin kosong untuk negeri kita tercinta Indonesia.
Kami menantang anda yang punya kemampuan tentang lingkungan untuk bergabung bersama kami dalam event untuk negeri ini. Berani...?!

Referensi :
• alamendah.wordpress.com/2010/03/09/kerusakan-hutan-deforestasi-di-indonesia
• alamendah.wordpress.com/2011/03/25/tema-dan-logo-hari-lingkungan-hidup-sedunia- 2011
• Umam-eljayyid.blogspot.com
• Sambutan menteri lingkungan hidup 2011

Tidak ada komentar: