Minggu, 24 Mei 2009

Integrasi Interkoneksi Sains n Al Qur'an

Kaum Saba’ dalam Tragedi Situ Gintung

Musibah demi musibah kerap melanda negeri ini. Sepertinya bangsa kita khususnya dan dunia pada umumnya sudah bosan dengan segala aktifitas-aktifitas yang dilakukan manusia bila dipandang dari sisi efek yang ditimbulkan. Berbagai efek negative mendominasi dari segala hal yang berbau manusia, entah itu disengaja ataukah sudah fitrahnya manusia. Dalam hal ini sebenarnya telah ditakutkan oleh para malaikat, terkait dengan penciptaan manusia dan kekhalifahannya di muka bumi, seperti yang digambarkan dalam ayat Al-Quran.

Ya Tuhanku!! Mengapa Engkau ciptakan manusia, yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi, kemudian Allah menjawab, “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Di Negara kita yang semakin hari terasa semakin panas,

terlepas dari iklim yang berubah atau karena factor-faktor lainnya. Terkait dengan masalah kurangnya sikap kearifan local dari berbagai elemen masyarakat menjerat setiap individu beraktivitas tanpa pandang bulu. Eksplorasi besar-besaran tak ampun lagi mendera setiap jengkal tanah di bumi pertiwi ini. Keadaan geologi yang sangat memprihatinkan semakin memperparah lingkungan. Salah satu sumber daya penting yang menopang kehidupan manusia yaitu air, yang tanpa air kita semua tidak akan mampu survive menjalani kehidupan di bumi ini. Sumber daya air yang melimpah di negeri kita tanpa pemanfaatan dan perawatan yang optimal. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dibangunlah bendungan-bendungan dan tanggul-tanggul untuk menampung air. Ironisnya, ketika air begitu melimpah masing-masing individu mulai merasa tak ada lagi beban, baik dalam hal pemeliharaan dan kebersihan. Hal inilah yang terjadi pada kasus yang baru-baru ini terjadi pada Situ Gintung yang terletak di Tangerang, Banten. Air Situ Gintung luber menerjang tanggul yang selama ini bercokol menampung air tersebut, sehingga melanda dan memporak porandakan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Jutaan liter kubik air yang selama ini tertampung bak kolam raksasa tiba-tiba terkuras habis. Bayangkan, bagaimana air yang volumenya mencapai jutaan kubik tiba-tiba terkuras habis dari tempatnya, mengamuk menjangkiti kehidupan manusia di sekitarnya. Sungguh musubah yang mengerikan. Tetapi inilah kenyataan yang baru saja menimpa ibu
kota Negara kita. Sekilas terlihat bahwa bencana terjadi karena rapuhnya tanggul yang dimakan usia, namun jika kita feedback penyebab utamanya adalah manusia-manusia itu sendiri. Menurut data-data yang dikumpulkan oleh BPPT, bahwa titik awal terjadinya bencana itu adalah karena lemahnya pintu pelumasan tanggul. BPPT melakukan analisis pada tanggal 5 Desember 2008, ketika melakukan studi untuk waduk resapan, telah terjadi erosi yang cukup lama dan menggerus bagian dasar tanggul, sehingga otomatis daerha penampungan air pada Situ Gintung tersebut mengalami pendangkalan. Hujan lebat yang sebelumnya terjadi secara terus-menerus, mencapai kurang lebih 70 mm/jam bukanlah penyebab utama Situ Gintung meluap, namun hujan menjadi pemicu yang semakin membludaknya volume air di Situ Gintung, yang kemudian mendorong dinding tanggul yang telah tergerus. Akibatnya air meluap ke luar bersama lumpur dan sampah. Pada Jumat 27 Maret 2009, dari data statistic korban yang meninggal hamper mencapai 100 orang dan 319 rumah rusak.

Ditinjau dari aspek biologi, hal ini merupakan bencana ekologis. Dan ini bukan kali pertamanya Indonesia dilanda bencana ekologis. Pesatnya pertumbuhan masyarakat dan penataan ruang hidup yang semrawut tanpa memikirkan kondisi alam sekitar merupakan factor yang berpengaruh terhadap peristiwa ini. Lingkungan sekitar Situ Gintung yang dipadati manusia dengan mengubah tanah menjadi lahan-lahan beton semakin mempersempit ruang gerak air untuk meresap ke dalam tanah. Ekosistem hutan yang menipis menambah lambatnya daya serap terhadap air. Pola hidup masyarakat yang tidak berbasis kearifan local membuat alam mengamuk dan juga memiliki andil besar terhadap bencana ini. Penduduk yang bermukin di wilayah yang seharusnya tidak boleh di gunakan untuk mendirikan bangunan juga ikut berpartisipasi timbulnya bencana ini.

Pada dasarnya, munculnya penadah air seperti Situ Gintung ini mampu menciptakan ekosistem baru di daerah ini, berbagai species ikan, tanaman air dan pohon-pohon tumbuh di daerah tersebut. Otomatis khazanah keanekaragaman hayati di Negara kita semakin bertambah. Terjadinya banjir tsunami kecil ini mrmbuktikan bahwa lingkungan tersebut telah mengalami degradasi. Dari mulai degradasi moral, social, agama, dan degradasi terhadap sikap kearifan local masyarakatnya. Hal ini menjadi mainstream yang berimbas kepada keterkaitan pemerintah dalam pengelolaannya. Pembangunan yang terjadi ternyata tidak berkelanjutan dalam artian bahwa pembangunan yang ada hanya ingin menunjukkan glamour Negara dengan tiang-tiang pencakar langit dan dinding-dinding beton. Hal ini fatal akibatnya bagi kehidupan karena dengan cara seperti itu manusia ingi mengeksiskan diri sebagai satu-satunya makhluk di dunia, karena secara tidak langsung ekosistem flora dan fauna akan terancam tersingkir dari muka bumi dan mengakibatkan kepunahan. Jika kita mampu berpikir panjang, naturalis adalah yang terbaik daripada perekayasaan.

Ditinjau dari aspek agama, sebenarnya kita perlu berkaca pada kejadian yang menimpa umat terdahulu. Bagimana Al-Quran telah mamuat berbagai kisah-kisah manusia-manusia sebelum kita yang semuanya berakhir pada kehancuran akibat perbuatan mereka sendiri. Terkait dengan tragedy Situ Gintung, kejadian serupa pun telah ada dalam Al-Quran, yaitu pada surat Saba’ ayat 15-16

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ ﴿١٥﴾

Artinya: “Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun".

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ ﴿١٦﴾

Artinya: “Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.”

Diceritakan bahwa kaum Saba’ merupakan orang yang memiliki tingkat pengetahuan dan teknologi yang canggih. Saba’ merupakan sebuah negeri yang makmur dengan standar kehidupan yang sangat memadai, meskipun diperintah oleh seorang wanita yaitu Ratu Bilqis, namun negeri Saba’ ini termasuk negeri yang kuat dan disegani. Terkait pada jalur perdagangan dan merupakan pusat peradapan ilmu pengetahuan. Dengan teknologinya yang canggih mereka membuat bendungan yang dibangun untuk menopang system irigasi dan pertaniannya dengan membendung Sungai Adhanah, tempat bertemunya titik Jabal Balaq. Bendungan tersebut memiliki ketinggian 16 meter dengan lebarnya 60 meter dan memiliki panjang kurang lebih 630 meter. Wilayah yang mampu dialiri oleh bendungan yang diberi nama bendungan Ma’rib ini seluas 9.600 hektar. Sungguh peradaban yang maju sekali. Dalam surat di atas digambarkan bagaimana beragamnya ekosistem yang ada dan asrinya lingkungan si sana, kebun anggur membelah disepanjang sisi-sisi bendungan dan lembah. Berbagai macam species makhluk hidup terdapat di sana. Peristiwa hebat pun terjadi, bendungan Ma’rib tersenut jebol dan menghancurkan seluruh sendi-sendi kehidupan negeri Saba’. Berbagai macam ekosistem yang telah terbentuk mengalami kehancuran. Kontradiktif dengan apa yang telah dicapai oleh kaum tersebut. Pasalnya mereka bukanlah makhluk-makhluk yang bersyukur kepada Allah, Sang Pemberi hidup. Mereka sombong dan menganggap lingkungan tersebut milik mereka dan ada karena mereka. Sehingga mereka pun semena-mena dalam pemanfaatannya. Tanpa berpikir terhadap kemampuan alam yang terbatas. Eksplorasi SDA secara besar-besaran dan ekosistem hutan mulai dijamah untuk kebutuhan hidupnya demi mencapai kemegahan. Bendungan Ma’rib yang tidak lagi diperhatikan ditambah lagi daya tamping bendungan yang semakin tergerus, serta habisnya pepohonan menjadi titik tolak terjadinya banjir besar yang disebut dengan Sail Al-Arim (banjir Arim). Kealpaan mereka dalam memelihara dan menjaga atas nikmat yang luar biasa diberikan Allah kepada kaum tersebut ternyata menjadi boomerang bagi mereka.

Sama halnya dengan peristiwa Situ Gintung yang terjadi pada 27 Maret 2009 lalu. Ketamakan dan kerakusan manusia mengakibatkan efek negative terutama bagi ekologi yang ada disekitarnya. Kurangnya sifat kearifan local dalam diri masing-masing dan system penataan lingkungan terutama bagi tempat hidup masyarakat. Pemerintah harus mampu mencari celah agar bisa maju tanpa sikut-sikutan terhadap alam, dalam artian mampu membangun secara berkelanjutan dengan berbasis kearifan local. Peristiwa kaum Saba’ yang diabadikan dalam Al-Quran ini merupakan isyarat bagi umat manusia agar mampu belajar dari umat terdahulu tanpa terjatuh untuk kadua kalinya.

Hendaknya kita mampu bercermin dan mulai menata ruang hidup kita serta konservasi harus terus ditingkatkan agar kita tidak tergolong umat yang merugi. Wallahualam. ..

Oleh : Khotibul Umam

Mahasiawa UIN Suka Prodi Biologi

Santri PP. Fauzul Muslimin

Tidak ada komentar: