Kaum Saba’ dalam Tragedi Situ Gintung
Musibah demi musibah kerap melanda negeri ini. Sepertinya bangsa kita khususnya dan dunia pada umumnya sudah bosan dengan segala aktifitas-aktifitas yang dilakukan manusia bila dipandang dari sisi efek yang ditimbulkan. Berbagai efek negative mendominasi dari segala hal yang berbau manusia, entah itu disengaja ataukah sudah fitrahnya manusia. Dalam hal ini sebenarnya telah ditakutkan oleh para malaikat, terkait dengan penciptaan manusia dan kekhalifahannya di muka bumi, seperti yang digambarkan dalam ayat Al-Quran.
Ya Tuhanku!! Mengapa Engkau ciptakan manusia, yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi, kemudian Allah menjawab, “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Di Negara kita yang semakin hari terasa semakin panas,
terlepas dari iklim yang berubah atau karena factor-faktor lainnya. Terkait dengan masalah kurangnya sikap kearifan local dari berbagai elemen masyarakat menjerat setiap individu beraktivitas tanpa pandang bulu. Eksplorasi besar-besaran tak ampun lagi mendera setiap jengkal tanah di bumi pertiwi ini. Keadaan geologi yang sangat memprihatinkan semakin memperparah lingkungan. Salah satu sumber daya penting yang menopang kehidupan manusia yaitu air, yang tanpa air kita semua tidak akan mampu survive menjalani kehidupan di bumi ini. Sumber daya air yang melimpah di negeri kita tanpa pemanfaatan dan perawatan yang optimal. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dibangunlah bendungan-bendungan dan tanggul-tanggul untuk menampung air. Ironisnya, ketika air begitu melimpah masing-masing individu mulai merasa tak ada lagi beban, baik dalam hal pemeliharaan dan kebersihan. Hal inilah yang terjadi pada kasus yang baru-baru ini terjadi pada Situ Gintung yang terletak di Tangerang, Banten. Air Situ Gintung luber menerjang tanggul yang selama ini bercokol menampung air tersebut, sehingga melanda dan memporak porandakan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Jutaan liter kubik air yang selama ini tertampung bak kolam raksasa tiba-tiba terkuras habis. Bayangkan, bagaimana air yang volumenya mencapai jutaan kubik tiba-tiba terkuras habis dari tempatnya, mengamuk menjangkiti kehidupan manusia di sekitarnya. Sungguh musubah yang mengerikan. Tetapi inilah kenyataan yang baru saja menimpa ibu
Ditinjau dari aspek biologi, hal ini merupakan bencana ekologis. Dan ini bukan kali pertamanya
Pada dasarnya, munculnya penadah air seperti Situ Gintung ini mampu menciptakan ekosistem baru di daerah ini, berbagai species ikan, tanaman air dan pohon-pohon tumbuh di daerah tersebut. Otomatis khazanah keanekaragaman hayati di Negara kita semakin bertambah. Terjadinya banjir tsunami kecil ini mrmbuktikan bahwa lingkungan tersebut telah mengalami degradasi. Dari mulai degradasi moral, social, agama, dan degradasi terhadap sikap kearifan local masyarakatnya. Hal ini menjadi mainstream yang berimbas kepada keterkaitan pemerintah dalam pengelolaannya. Pembangunan yang terjadi ternyata tidak berkelanjutan dalam artian bahwa pembangunan yang ada hanya ingin menunjukkan glamour Negara dengan tiang-tiang pencakar langit dan dinding-dinding beton. Hal ini fatal akibatnya bagi kehidupan karena dengan cara seperti itu manusia ingi mengeksiskan diri sebagai satu-satunya makhluk di dunia, karena secara tidak langsung ekosistem flora dan fauna akan terancam tersingkir dari muka bumi dan mengakibatkan kepunahan. Jika kita mampu berpikir panjang, naturalis adalah yang terbaik daripada perekayasaan.
Ditinjau dari aspek agama, sebenarnya kita perlu berkaca pada kejadian yang menimpa umat terdahulu. Bagimana Al-Quran telah mamuat berbagai kisah-kisah manusia-manusia sebelum kita yang semuanya berakhir pada kehancuran akibat perbuatan mereka sendiri. Terkait dengan tragedy Situ Gintung, kejadian serupa pun telah ada dalam Al-Quran, yaitu pada
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ ﴿١٥﴾
Artinya: “Sesungguhnya bagi kaum
فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ ﴿١٦﴾
Artinya: “Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.”
Diceritakan bahwa kaum
Sama halnya dengan peristiwa Situ Gintung yang terjadi pada 27 Maret 2009 lalu. Ketamakan dan kerakusan manusia mengakibatkan efek negative terutama bagi ekologi yang ada disekitarnya. Kurangnya sifat kearifan local dalam diri masing-masing dan system penataan lingkungan terutama bagi tempat hidup masyarakat. Pemerintah harus mampu mencari celah agar bisa maju tanpa sikut-sikutan terhadap alam, dalam artian mampu membangun secara berkelanjutan dengan berbasis kearifan local. Peristiwa kaum
Hendaknya kita mampu bercermin dan mulai menata ruang hidup kita serta konservasi harus terus ditingkatkan agar kita tidak tergolong umat yang merugi. Wallahualam. ..
Oleh : Khotibul Umam
Mahasiawa UIN Suka Prodi Biologi
Santri PP. Fauzul Muslimin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar