Shalat tahajud ialah ibadah yang kita lakukan pada malam hari, biasanya tengah malam atau lewat tengah malam. Shalat tahajud juga dikenali sebagai shalatullail atau qiyamullail. Shalat ini sangat baik terutama dilakukan oleh setiap muslim seperti halnya Rasulullah saw dan para sahabat tidak meninggalkannya sepanjang hayat sebagai ibadah tambahan yang memperkuat ruhiyah setiap muslim untuk menjalani hari-harinya.
Tidur dan Shalat Tahajud
Umumnya manusia mengatakan tidur malam perlu antara 6 hingga 8 jam sehari. Tetapi pendapat ini ditolak para saintis Barat seperti Dr Ray Meddis, seorang professor di Department of Human Sciences, England University of Technology yang mengatakan bahwa manusia sebenarnya perlu tidur malam 3 jam saja.
Waktu tidur dibagi ke dalam 2 bagian, tidur ayam dan tidur lelap. Mimpi biasanya terjadi pada tidur lelap [deep sleep]. Manusia perlu berlatih untuk dapat tidur lelap karena tidur ayam adalah saat berangan-angan dan membuang waktu saja. Tidur yang sebenarnya adalah ketika tidur lelap yang mengikuti kajian saintis Barat yakni selama 3 jam. Kita merasaka bahwa tidur malam kita selalu tidak cukup. Hal ini dikarenakan kita tidak teratih atau mengikuti aturan ketika tidur.
Apabila seorang atlit hendak memasuki suatu pertandingan lomba lari, dia akan berlatih
Islam merupakan agama samawi yang benarbenar suci, diturunkan sebagai rahmatanlil'alamin. Untuk memahami islam diperlukan ilmu yang mumpuni dan ilmiah. Adanya sinergi antara islam sebagai kebutuhan "hati" dan Sains sebagai kebutuhan "akal" akan menciptakan suatu reaksi perpaduan yang dahsyat atau sering diistilahkan dengan Integrasi dan Interkoneksi"
Kamis, 25 November 2010
Integrasi Sains dalam Pendidikan Islam
Integrasi Sains & Islam pada Pendidikan
Dengan mengetahui seluruh “duduk perkara” sains dan Islam di atas, tampak bahwa hakekat persoalannya adalah memadukan agar pada setiap aktivitas kita, setelah ada kerja keras dari kekuatan tubuh kita, ada kerja cerdas berdasarkan sains dan kerja ikhlas berdasarkan Islam.
Dalam dunia pendidikan, yang biasanya akan dikembangkan pada seorang anak didik adalah olah fikirnya (kognitif), sikapnya (afektif) dan life-skill-nya (psikomotorik). Di sinilah perlu penelaahan yang mendalam agar di setiap aspek ada muatan sains dan Islam secara sinergi. Bahkan lebih jauh lagi, beberapa mata pelajaran bisa dipadukan sehingga tercipta suatu fokus yang berguna secara praktis.
Sebagai contoh: Mengajarkan masalah air.
Kita bisa membahas mulai dari soal siklus air (IPA/fisika). Agar terkesan, bahasan bisa dilakukan di tepi kolam atau sungai. Di situ sekaligus ada pengetahuan tentang IPS/geografi. Kemudian bagaimana manusia berbagi air (matematika). Lalu bagaimana hukum-hukum Islam yang berkait dengan air (thaharah, hadits “manusia berserikat dalam air, api dan padang gembalaan”). Dan terakhir siswa diminta membuat karangan tentang bagaimana menjaga
Dengan mengetahui seluruh “duduk perkara” sains dan Islam di atas, tampak bahwa hakekat persoalannya adalah memadukan agar pada setiap aktivitas kita, setelah ada kerja keras dari kekuatan tubuh kita, ada kerja cerdas berdasarkan sains dan kerja ikhlas berdasarkan Islam.
Dalam dunia pendidikan, yang biasanya akan dikembangkan pada seorang anak didik adalah olah fikirnya (kognitif), sikapnya (afektif) dan life-skill-nya (psikomotorik). Di sinilah perlu penelaahan yang mendalam agar di setiap aspek ada muatan sains dan Islam secara sinergi. Bahkan lebih jauh lagi, beberapa mata pelajaran bisa dipadukan sehingga tercipta suatu fokus yang berguna secara praktis.
Sebagai contoh: Mengajarkan masalah air.
Kita bisa membahas mulai dari soal siklus air (IPA/fisika). Agar terkesan, bahasan bisa dilakukan di tepi kolam atau sungai. Di situ sekaligus ada pengetahuan tentang IPS/geografi. Kemudian bagaimana manusia berbagi air (matematika). Lalu bagaimana hukum-hukum Islam yang berkait dengan air (thaharah, hadits “manusia berserikat dalam air, api dan padang gembalaan”). Dan terakhir siswa diminta membuat karangan tentang bagaimana menjaga
Minggu, 07 November 2010
Analisis Kesenjangan Penerapan Konsep Integrasi-Interkoneksi Terhadap Kepuasan Mahasiswa Angkatan 2008/2009 Dalam Proses Belajar Mengajar
(Studi Kasus di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Oleh : Khotibul Umam. Widyani NL, Erwin Arsadani
LATAR BELAKANG MASALAH
Sejarah ilmu pengetahuan selama ini selalu diukur dari kemajuan teknik dan ketinggian metode-metode kuantitatif di dalam studi ilmu alam. Pandangan seperti ini menganggap konsepsi ilmu pengetahuan sekarang sebagai satu-satunya yang sah dan benar, ilmu pengetahuan lainnya seakan-akan harus dilihat dari kaca mata ilmu pengetahuan modern dan memberikan evaluasi terutama yang berhubungan dengan perkembangan dalam perjalanan manusia. Manusia dipandang sesuai dengan keahlian ilmu yang ia miliki. Tanpa sadar manusia dikotak-kotak dalam dimensi ilmunya masing-masing.
Manusia bukanlah makhluk yang satu dimensi, kita menginginkan manusia dipandang “utuh” yaitu manusia yang selain memiliki ilmu pengetahuan dengan akalnya juga memiliki budaya, iman kepada Tuhan dan agamanya, dan menghargai seni serta estetiknya. Manusia yang memiliki persepsi historis tentang perjalanan bangsanya dalam sejarah peradaban manusia.
(Studi Kasus di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Oleh : Khotibul Umam. Widyani NL, Erwin Arsadani
LATAR BELAKANG MASALAH
Sejarah ilmu pengetahuan selama ini selalu diukur dari kemajuan teknik dan ketinggian metode-metode kuantitatif di dalam studi ilmu alam. Pandangan seperti ini menganggap konsepsi ilmu pengetahuan sekarang sebagai satu-satunya yang sah dan benar, ilmu pengetahuan lainnya seakan-akan harus dilihat dari kaca mata ilmu pengetahuan modern dan memberikan evaluasi terutama yang berhubungan dengan perkembangan dalam perjalanan manusia. Manusia dipandang sesuai dengan keahlian ilmu yang ia miliki. Tanpa sadar manusia dikotak-kotak dalam dimensi ilmunya masing-masing.
Manusia bukanlah makhluk yang satu dimensi, kita menginginkan manusia dipandang “utuh” yaitu manusia yang selain memiliki ilmu pengetahuan dengan akalnya juga memiliki budaya, iman kepada Tuhan dan agamanya, dan menghargai seni serta estetiknya. Manusia yang memiliki persepsi historis tentang perjalanan bangsanya dalam sejarah peradaban manusia.
Langganan:
Komentar (Atom)